Gadget & Games Time

“Without rice, even the cleverest housewife cannot cook”

Health & Beauty Time

“Beauty in things exists merely in the mind which contemplates them”

Kuliner Time

“A closed mouth catches no flies”

Shopping Time

“Venture all! See what fate brings..”

Traveling Time

“A Traveler without observation is like a bird without wings”

Home » Traveling Time

Kelenteng Sam Po Kong – Semarang

Submitted by Us on Friday, 19 December 2008No Comment

Kalo jalan-jalan ke Semarang, sempet-sempetin buat mampir  ke Kelenteng Sam Po Kong. Tepatnya di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Ato dikenal dengan nama laen Kelenteng Gedung Batu. Ngak usah ragu walopun elo bukan orang Chinese, ato elo bukan agama Budha. Karena kelenteng ini terbuka buat yang mao dateng en berkunjung, cuma memang ada tempat-tempat tertentu yang ngak boleh dimasukkin sembarangan orang.

Sekilas tentang Sejarah Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan en pendaratan pertama seorang Laksamana dari Tiongkok bernama Zheng He / Cheng Ho () atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien.  

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang dan akhirnya sampai di sebuah desa, yaitu desa Simongan. Setelah sampai di daratan, ia menemukan sebuah gua batu yang digunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Karena ia tertarik dan merasa tenang di tempat itu, ia memutuskan untuk sementara waktu beristirahat dan menetap di gua tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada di sekitar gua.

Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat ini karena masih harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang di tempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Walopun Zheng He beragama islam, ia juga mengajarkan cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur-nenek moyang. Di malam harinya mereka berkumpul di dalam gua batu.

Sehingga setelah Zheng He meninggalkan tempat itu buat melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng He guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.

Zheng He mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng He lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam. Karenanya Zheng He sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya.

Kelenteng Sam Po Kong

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Sekarang tempat ini dijadiin tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat buat berziarah. Untuk keperluan ini, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Nah tempat ini yang ngak bisa dimasukkin sembarangan orang.

Di sebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Batu berukir ini dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng He di Kota Semarang, dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.

Alesan harus ke kelenteng ini..

Kelenteng ini ada di satu area yang sangat luas banget dan banyak tempat yang bisa dilihat, en meskipun kalo elo bukan dateng bukan buat sembayang, banyak nilai seni dan budaya yang bisa diambil. Di sini elo bisa nemuin jangkar, yang konon katanya adalah jangkar asli dari kapalnya Laksamana Zheng He. Terus elo juga bisa nemuin banyak ukiran-ukiran di dinding deket Gua Batu yang menceritakan tentang Laksamana Zheng He. Terusnya lagi elo juga bakal bisa nemuin pohon yang akar-akarnya bisa berkepang-kepang kaya rantai kapal. 

Di Kelenteng ini ada satu tempat yang langit-langitnya digantung banyak lampion-lampion yang bertuliskan nama orang yang menjadi donatur. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips :

 

  • Tempatnya banyak ruang terbuka dan kalo siang lumayan bikin garing kulit, jadi silahkan sediain payung ato topi
  • Kalo elo orang pendatang, jangan  malu nanya karena di sini ada beberapa area yang ngak boleh dimasukkin sembarangan dan ada yang ngak boleh difoto juga.
  • Share/Bookmark

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.